Zat Besi (Fe)

      Gambar terkait



      A.    Sifat Zat Besi
Zat besi merupakan unsur yang sangat penting untuk membentuk hemoglobin (Hb). Dalam tubuh, zat besi mempunyaui fungsi yang berhubungan dengan pengangkutan, penyimpanan dan pemanfaatan oksigen dan berada dalam bentuk hemoglobin, myoglobin, dan cytochrome. Untuk memenuhi kebutuhan guna pembentukan hemoglobin sebagian besar zat besi yang berasal dari pemecahan sel darah merah akan dimanfaatkan kembali baru kekurangannya harus dipenuhi dan diperoleh melalui makanan. Taraf gizi besi bagi seseorang sangat dipengaruhi oleh jumlah konsumsinya melalui makanan, bagian yang diserap melalui saluran pencernaan, cadangan zat besi dalam jaringan , ekskresi dan kebutuhan tubuh.
 Kandungan besi di dalam tubuh wanita sekitar 35 mg/kg BB dan pada laki-lai 50 mg/kg BB, dimana 70% terdapat di dalam hemoglobin dan 25% merupakan besi cadangan yang terdiri dari ferritin dan hemosiderin yang terdapat dalam hati, limpa dan usmsum tulang. Jumlah besi yang dapat disimpan dalam tubuh 0,5-1,5 g pada laki-laki dewasa dan 0,3-1,5 g pada wanita dewasa, selain itu ferritin juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan besi. Bila semua ferritin sudah ditempati, maka besi berkumpul dalam hal sebagai hemosiderin. Hemosiderin merupakan kumpulan molekul ferritin. Pembuangan besi ke luar tubuh terjadi melalui beberapa jalan diantaranya melalui keringat 0,2-1,2 mg/hari, air seni 0,1 mg/hari dan melalui feses dan menstruasi 0,5-1,4 mg/hari.

      B.     Metabolisme Zat Besi
Besi (Fe) merupakan unsur runutan (trace element) terpenting bagi manusia. Besi dengan konsentrasi tinggi terdapat dalam sel darah merah, yaitu sebagai bagian dari molekul hemoglobin yang memngangkut paru-paru. Hemoglobin akan mengangkut oksigen ke sel-sel yang membutuhkannya untuk metabolism glukosa, lemak, dan protein menjadi energi (ATP)
Besi yang berasal dari tiga sumber, yaitu besi yang diperoleh dari permukaan sel-sel darah merah (hemolysis), besi yang diambil dari penyimpanan dalam tubuh dan besi yang diserap dari saluran pencernaan, daro ketiga sumber tersebut pada manusia yang normal kira-kira 20-25 mg besi per hari berasal dari hemolysis dan sekitar 1 mg berasal dalam jumlah terbatas. Dalam keadaan normal, diperkirakan seorang dewasa menyerap dan mengeluarkan besi dalam jumlah terbatas, sekitar 0,5-2,2 mg per hari. Sebagian penyerapan terjadi didalam duodenum, tetapi dalam jumlah terbatas pada jejenum dan ileum.
Proses penyerapan zat besi ini meliputi tahap-tahap utama sebagai berikut:
a         Besi yang terdapat pada bahan pangan, baik dalam bentu Ferri (Fe+++) dan Ferro (Fe++) mula-mula mengalami proses pencernaan
b        Di dalam usus, Fe+++ larut dalam asam lambung kemudian di ikat oleh gastroferin dan doreduksi menjadi Fe++
c         Di dalam usus, Fe++ dioksidasi menjadi Fe+++. Fe++ selanjutnya berikatan dengan apoferritin yang kemudia ditransformasi menjadi ferritin, membebaskan Fe++ ke dalam plasma darah
d        Di dalam plasma Fe++ dioksidasi menjadi Fe+++, dan berikatan dengan transferrin
e         Transferrin mengangkut Fe++ ke dalam sumsum tulang untuk bergabung membentuk hemoglobin
f         Transferrin mengangkut Fe++ ke dalam tempat penyimpanan besi di dalam tubuh (hati, tulang, limpa, sistem reticuloendotelial) kemudian dioksidasi menjadi Fe+++. Fe+++ ini bergabung dengan apoferirtin membentuk ferritin yang kemudian disimpan. Besi yang terdapat dalam plasma seimbang dengan yang disimpan.

      C.    Kecukupan Konsumsi Zat Besi
Masukan zat besi setiap hari diperlukan untuk mengganti zat besi yang hilang melalui tinja, air seni dan kulit. Kehilangan basal ini kira-kira 14 ug/kg BB/hari atau hamper sama dengan 0,9 mg zat besi pada laki-laki dewasa dab 0,8 mg bagi wanita dewasa.
Zat besi dalam makanan dapat berbentuk heme dan nonheme. Zat besi heme adalah zat besi yang berikatan dengan protein, banyak terdapat dalam bahan makanan hewani misalnya daging, ungags dan ikan. Zat besi nonheme adalah senyawa besi anorganik yang kompleks, zat besi nonheme ini umumnya terdapat dalam tumbuh-tumbuhan, seperti serealia, kacang-kacangan, sayuran-sayuran dan buah-buahan. Zat besi heme dapat diabsorsi sebanyak 20-30%, sebalik nya zat besi nonheme hanya diabsorsi sebanyak 1-6%.
Menurut FAO/WHO, jumlah zat besi yang dikonsumsi sebaiknya berdasarkan jumlah kehilangan zat besi dari dalam tubuh kita seta bahan makanan hewani yang terdapat dalam menu.

      D.    Zat Gizi Yang Berperan Dalam Metabolisme Zat Besi
Pada saluran pencernaan zat besi mengalami proses reduksi dari bentuk Ferri (Fe+++) menjadi bentuk Ferro (Fe++) yang mudah diserap. Proses penyerapan ini dibantu oleh asam amino dan Vitamin C. Vitamin C meningkatkan absorsi zat besi dari makanan melalui pembentukan kompleks feroaskorbat. Kombinasi 200 mg asam askorbat dengan garam besi dapat meningkatkan penyerapan besi sekitar 25-50%. Adanya asam fitat dan asam fosfat yang berlebihan akan menurunkan ketersediaan zat besi, fosfat dalam usus akan menyebabkan terbentuknya kompleks besi fosfat yang tidak dapat diserap.

      E.     Factor Yang Mempermudah Absorpsi Zat Besi
Hasil dari suatu penelitian menunjukan bahwa sebanyak 37% zat besi heme dan 5% zat besi nonheme yang ada dalam makanan dapat diabsopsi. Zat besi nonheme yang rendah absorpsinya dapat ditingkatkan apabila adanya peningkatan asupan vitamin c dan factor-faktor lain yang mempermudah absorpsi seperti daging, ikan dan ayam.

Vitamin C
            Vitamin C berperan dalam pembentukan substansi antara sel dari berbagai jaringan, meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan aktivitas fagositosis sel darah putih, meningkatkan absorpsi zat besi dalam usus, serta transportasi besi dari transferrin dalam darah ke ferritin dalam sumsum tulang, hati, dan limpa.
            Vitamin C dapat meningkatkan absorpsi zat besi nonheme sampai empat kali lipat. Vitamin C dengan zat besi membentuk senyawa askorbat besi kompleks yang larut dan mudah diabsorpsi, karena itu sayuran-sayuran segar dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin c baik dikonsumsi untuk mencegah anemia. Hal ini mungkin disebabkan bukan saja karena bahan makanan itu mengandung zat besi yang banyak, melainkan mengandung vitamin c yang mempermudah absorpsi zat besi, sebab dalam hal-hal tertentu factor yang menentukan absorpsi lebih penting dari jumlah zat besi yang ada dalam bahan makanan itu.


SUMBER:

Adriani, Merryana dan Bambang Wijatmadi. 2014. Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) di Indonesia

Para Pengguna Informasi Akuntansi

Soal dan Jawaban Pengujian Hipotesis