Sifat-sifat Fisikawi dan Kimiawi Air
Air merupakan senyawa yang paling
berlimpah pada permukaan bumi, meliputi 70 persen dari seluruh permukaan planet
ini. Untuk memahami lebih jauh mengapa air dapat tercemar dan dapat dihuni oleh
mahluk hidup (biota), maka alangkah baiknya kita mengetahui sifat-sifat
(karakteristik) air.
Penguraian (pemisah) molekul air
menjadi atom-atom hydrogen dan oksigen melalui proses elektosis pertama kali
dilakukan oleh ahli kimia Inggris William Nicholson pada tahun 1800. Kemudian Joseph
Louis Gay-Lussac dan Alexander Von Humboldt pada tahun 1805 menunjukkan bahwa
molekul air tersusun dari 2 bagian yaitu hidrogrn dan oksigen. Gilbert Newton
Lewis mengisolasi contoh air murni pertama kali pada tahun 1933. Air adalah
senyawa kimia dengan rumus kimia H20 , satu molekul air terdiri dari
dua atom hydrogen yang melekat pada satu sisi dari atom oksigen (terikat secara
kovalen pada satu atom oksigen). Satu molekul air memiliki satu muatan positif
pada sisi atom hydrogen dan muatan negative pada sisi atom oksigen (Gambar 1).
Sisi atom hydrogen (muatan
positif ) dari satu molekul air menarik sisi oksigen (muatan positif) dari
molekul lainnya. Karena muatan listrik yang berlawanan dan saling tarik menarik
itu, maka molekul-molekul air saling berhubungan satu dengan lainnya.
Sifat-sifat kimia air meliputi:
- Bereaksi
dengan oksida-oksida asam
- Bereaksi
dengan oksida-oksida basa
- Bereaksi
dengan logam
- Bereaksi
dengan senyawa non-logam
-
Menggabung
dalam membentuk garam-garam hidrat
- Bersifat
amfoterik yakni dapat bersifat asam dan dapat bersifat basa didalam reaksi
kimia. Pada saat bereaksi dengan asam bersifat basa, dan pada saat bereaksi
dengan basa kuat, air bersifat asam.
Variasi kandungan
kimia air pada perairan air tawar lebih besar dari pada perairan laut,
mineral-mineral yang larut di air tawar tidak dapat menyebar ke dalam areal
yang luas, dan komposisi komonitas biota air tawar (volume airnya relatif sedikit) lebih banyak
dipengaruhi oleh iklim jika dibandingkan dengan komunitas biota yang berada
lingkungan laut (yang volume airnya lebih bessar).
Sifat-sifat fisik air meliputi:
-
Dapat
berbentuk padat (es, salju), cair dan gas (uap air)
-
Tidak
berwarna
-
Tidak
berasa
-
Tidak
berbau
-
Denditas
(kepadatan): 1g/cc pada suhu 4o C
-
Tidak
beku: 0o C
-
Titik
didih: 100o C
-
Suhu
kritis: 374o C
-
Tekanan
kritis: 217,5 atm
Air memiliki beberapa sifat
kimiawi yang spesifik, yaitu:
-
Diperlukan
energi yang lebih besar untuk memecahkan ikaatan-ikatan hydrogen diantara
molekul-molekul air
- Memiliki
kapasitas panas spesifik yang tinggi. Kapasitas panas yang tinggi itulah yang
mengakibatkan air sebagai:
-
Media
penyimpanan energi panas, sekaligus
-
Peredam
panas (pendingin) yang baik kedua tertinggi sesudah amoniak
-
Memiliki
panas penguapan yang tinggi (40,65 kJ/mol atau 2557 kJ/kg pada titik didih
normal)
- Menjadi
penyangga terhadap cuaca atau terhadap iklim yang sangat fluktuatif. Lautan
menyerap panas 1.000 x lebih banyak jika dibandingkan dengan udara dan
menyimpan 80-90% panas bumi
-
Molekul
air mengembang jika suhunya ditingkatkan, dan kerapatannya menurun 4% jika
panasnya mendekati titik (suhu) didihnya
-
Pada
saat suhu air 4o C, air akan
selalu pada dasar danau air tawar, berapapun suhu udara.
Karena polaritas dan
molaritasnya tinggi, air adalah zat pelarut yang baik. Air disebut pelarut yang
universal (the universal solvent). Oleh karena sifat pelarur universalnya, air
murni jarang ditemukan di alam, hamper selalu mengandung zat terlarut
didalamnya, yang paling sering adalah berupa garam-garam. Pada saat senyawa
ionis atau senyawa polar masuk atau dimasukkan ke dalam air, maka senyawa
tersebut dikelilingi oleh molekul-molekul air; kutub negative dari molekul air
tertarik kemuatan positif dari zat terlarut, dan sebaliknya kutub positif air
tersebut tertarik ke muatan negatf zat terlarut. Ukuran kecil dari molekul air
memungkinkan banyak molekul air mengelilingi satu molekul zat terlarut.
Senyawa-senyawa yang
larut dalam air ada dalam bentuk terlarut, tersuspensi, koloid maupun
diendapkan.
Salah satu garam yang
mudah larut adalah NaCl (garam dapur). Pada proses pelarutan garam tersebut,
kutub-kutub negative molekul air mengelilingi ion positif natrium (Na+ )
dan kutub-kutub positif hydrogen mengelilingi ion negative klorida (Cl- ).
Jika air mengandung sedikit saja kontaminan berupa garam, garam mineral, maka
air dapat mengalirkan arus listrik akibat dari terpisahnya garam-garam tersebut
menjadi ion-ion yang larut.
Dengan adanya kontak
dengan permukaan membrane sel dan protein yang bersifat tertarik dengan air
(hidrofilik), maka sel-sel dan organel-organel biota akuatik terhindar dari
dehidrasi (kehilangan air) oleh paparan udara kering dan terhindar dari
pembekuan (freezing) oleh suhu yang sangat rendah (misalnya dibawah 0o C).
Senyawa-senyawa yang
tidak dapat tercampur sempurna dengan air (seperti lemak dan minyak) disebut
bersifat hidrofobik menolak molekul air.
Sifat pelarut yang
dmiliki oleh air vital bagi keberlanjutan hidup biota, sebab banyak
reaksi-reaksi biokimia didalam tubuh biota yang berlangsung hanya di dalam fase
cair (larutan). Air sebagai pelarut, tekanan osmotiknya berperan mengangkut air
ke dalam sel-sel biota. Melalui proses difusi, molekul-molekul dan
senyawa-senyawa terlarut dapat menembus masuk atau keluar dari molekul air
tadi, molekul-molekul air tetap saling merapat satu dengan lainnya (terjadi
atraksi intermolekuler atau gaya tarik menarik antar molekul air, sifat ini
disebut kohesi dari molekul air). Selanjutnya, akibat kekuatan adhesi dan
tekanan permukaan (surface tension) yang dimilikinya, air memiliki sifat
kapiler, dimana air dapat bergerak ke atas melewati pipa-pipa kapiler melawan
gaya gravitasi bumi. Air tertarik (merapat) pada bagian dalam dari dinding
kapiler jaringan tumbuhan seperti tanaman-tanaman pembentuk mangrove. Dengan gaya
kohesi tadi, molekul-molekulair begerak atau tertarik keatas menembus lapisan
xylem dari vegetasi bakau, kohesi melekatkan molekul-molekul air dan adhesive membuat
molekul-molekul air melekat pada lapisan dasar xylem.
SUMBER:
SUMBER:
Syamsuddin, Rajuddin. 2014. Pengelolaan Kualitas
Air. Makasar: Pijar Press

Komentar
Posting Komentar