Anemia
A. Pengertian Anemia
Anemia didefinisikan
sebagai suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah lebih rendah dari
pada nilai normal untuk kelompok orang menurut umur dan jenis kelamin.
Anemia gizi adalah
suatu keadaan dengan kadar hemoglobin darah yang lebih rendah daripada normal
sebagai akibat ketidakmampuan jaringan pembentuk sel darah merah dalam
produksinya guna mempertahankan kadar hemoglobin pada tingkat normal.
Anemia gizi besi adalah
anemia yang timbul karena kekurangan zat besi sehingga pembentukkan sel-sel darah
merah dan fungsi lain dalam tubuh terganggu.
Anemia gizi sangat umum
dijumpai di Indonesia dan dapat terjadi pada semua golongan umur, dimana
keadaan kadar hemoglobin di dalam darah lebih rendah dari pada normal.
B.
Batas Nilai Kadar Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin merupakan
zat warnan yang terdapat dalam darah merah yang berguna untuk mengangkut
oksigen dari CO2 dalam tubuh. Hemoglobin adalah ikatan antara
protein, garam besi dan zat warna.
Kadar Hb merupakan
parameter yang paling mudah digunakan dalam menentukan status anemia pada skala
luas. Sampel darah yang digunakan biasanya sampel darah tepi, seperti dari
jaringan tangan (finger prick), dapat
pula dari jari kaki, serta telingan dan untuk memperoleh hasil yang lebih
akurat dianjurkan menggunakan sampel darah vena.
Akan tetapi kadar
hemoglobin bukan merupakan indicator yang
sensitive untuk melihat status besi seseorang, karena turunnya kadar hemoglobin
merupakan tahap yang sudah lanjut dari adanya defisiensi besi.
Tiga tahap perkembangan
defisiensi besi, tahap pertamam terjadi bila simpanan besi berkurang yang
terlihat dari penurunan ferritin dalam plasma hingga 12U/L. hal ini
dikompensasi dengan peningkatanabsorsi besi yang terlihat dari peningkatan
kemampuan mengikat besi total. Pada tahap ini belum terlihat perubahan
fungsional terhadap tubuh. Tahap kedua terlihat dengan habisnya simpanan besi,
menurunnya junuh transferrin hingga kurang dari 16% pada orang dewasa, dan
meningkatnya protoporfirin yaitu bentuk pendahuu heme. Pada tahap ini nilai
hemoglobin di dalam darah masih berada pada 95% nilai normal. Pada tahap ketiga
terjadi anemia gizi besi, dimana kadar hemoglobin total turun dibawah nilai
normal.
Namun untuk mempermudah
pelaksanaan pengobatan dan menyukseskan program penanggulangan anemia maka kriteria
batasan kadar hemoglobin darah dapat digolongkan pada table berikut:
Menurut etiologinya anemia defisiensi zat besi
dibagi atas:
a
Masukan/intake
zat gizi kurang seperti pada KEP, defisiensi diet relative yang disertai dengan
pertumbuhan yang cepat
b Absorsi zat besi
kurang seperti pada KEP, enteritis yang berulang, sindroma malabsorbsi
c
Kebutuhan zat
gizi yang bertambah seperti pada infeksi, pertumbuhan yang cepat
d
Pengeluaran zat
besi yang bertambah disebabkan karena ankilostomiasis, amoebiasis yang menahun,
polip, hemofilis intravaskuler kronis yang menyebabkan hemosideremia.
Faktor-faktor yang mendorong terjadinya anemia gizi
pada usia remaja (health media nutrition
series) adalah:
a
Adanya penyakit
infeksi yang kronis
b
Menstruasi yang berlebihan pada remaja putri
c
Pendarahan yang
mendadak seperti kecelakaan
d
Jumlah makanan
atau penyerapan diet yang buruk dari zat besi, Vitamin B12, Vitamin B6, Vitamin
C dan tembaga
SUMBER:
Adriani, Merryana dan Bambang Wijatmadi. 2014.
Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana


Komentar
Posting Komentar